• POS KUPANG.Com
  • POS KUPANG SPORT
  • SPIRIT NTT
  • TEENAGERS SPACE
  • Home
  • POS KUPANG NEWS
    • Kupang Watch
    • Kupang Plus
    • Kupang Crime
    • Polkam
    • Pro BISNIS
    • Nasional
    • Internasional
  • EDITORIAL
    • Kampungku
    • Salam
    • Beranda Kita
    • Opini
    • Tapaleuk
    • Pojok
  • REGIONAL NTT
    • Humaniora
    • Humbalorata
    • Flobamorata
    • Tirosa
    • Floresa
  • POS KUPANG MINGGU
    • Jendela Hati
    • Parodi Situasi
    • Puisi
    • Cerpen
    • Bianglala
    • Tamu Kita
    • Keluarga
    • Gaul
    • Bumi Kita
    • Community
    • Cerita Anak
  • LIFE STYLE
    • Buah Bibir
    • Cakrawala
    • Gossipi
  • Surat Pembaca
  • Blog
  • Archive
Google
/ Home / EDITORIAL / Opini
Opini
Tambang Batu Gosok Ancam TNK
Oleh Renold Ch. Manalu
Kamis, 2 Juli 2009 | 00:29 WITA

KAWASAN Taman Nasional Komodo (TNK) dikenal sebagai suatu ekosistim perairan laut yang paling kaya di dunia. Ekosistim perairan laut dan ekosistim teresterial merupakan satu kesatuan eksosistim kawasan yang berfungsi menciptakan harmoni kehidupan selaras alam di dalam kawasan Taman Nasional Komodo.

Karena ekosistemnya yang unik itulah kawasan ini  telah dikonservasi jauh sebelum ditetapkan sebagai Taman Nasional Komodo pada tahun 1980. Upaya-upaya konservasi kawasan terus ditingkatkan dengan beban biaya yang sangat mahal yang bersumber dari dana pemerintah dan kontribusi berbagai donor.

Upaya upaya konservasi, terutama dimaksudkan untuk memulihkan fungsi elemen- elemen  ekosistem yang rusak akibat ekploitasi sumber daya alam  kawasan yang  bersifat destruktif. Setelah melalui proses pemulihan yang sangat lama kini kawasan Taman Nasional Komodo harus tetap dikonservasi dan dilestarikan untuk berbagai  fungsi dan kepentingan antara lain : (1) sumber mata pencaharian berkelanjutan bagi ribuan nelayan; (2) fungsi ekowisata yang unik dan mempesona; dan (3) kepentingan riset dan pengembangan sains. Kekayaan sumber daya alam Taman Nasional Komodo telah memberikan secara langsung maupun tidak langsung sumber kehidupan dan penghidupan  yang berkelanjutan tidak saja nelayan, pedagang ikan, tetapi juga pelaku wisata, penginapan, warung, restoran  dan wisatawan itu sendiri yang jumlahnya ratusan ribu setiap hari di mana sebagian besar mereka adalah golongan menengah ke bawah. Jika aktivitas tambang di bukit Batu Gosok tidak dihentikan, maka merekalah yang paling dimarjinalkan dan disengsarakan.

Aktivitas tambang Batu Gosok di Kecamatan Komodoterlepas dari aspek legal atau ilegal, aktivitas pertambangan apa saja, hakikatnya adalah destruktif. Jika hakikatnya adalah destruktif (bersifat merusak), maka menurut akal sehat mestinya segala aktivitas manusia yang destruktif tidak mendapat tempat dalam sejarah peradaban manusia.  Kendatipun lokasi tambang itu berada di tengah hutan  rimba raya atau di tengah lautan (offshore) tetaplah destruktif sekalipun memiliki aspek legal.

Kegiatan eksplorasi tambang yang sedang berlangsung di Batu Gosok tampaknya sangat mengkhawatirkan dan mengancam harmonisasi interelasi elemen-elemen ekologis dan dapat berdampak sangat buruk terhadap seluruh makhluk hidup dalam kesatuan ekosistem regional.  Bayangkan, jika tambang emas Batu Gosok beroperasi puluhan ribu metrik ton tanah harus dikeruk setiap hari. Jika kandungan ore (biji emas) 1 - 2 persen saja dan kandungan tembaga/logam lainnya juga sekitar 2 persen, maka 96-97 persen adalah limbah atau tailing yang mengandung bahan berat berbahaya (limbah B3). Limbah sebanyak itu mau dibuang ke mana?


Ancam Kelestarian TNK

Tambang dan konservasi adalah dua aktivitas yang sangat antagonistik dengan kekuatan energi masing-masing. Kedua aktivitas ini tidak akan pernah bisa dipertemukan dalam kondisi apa pun. Jika konservasi adalah upaya melestarikan dan menjaga keindahan dan keharmonisan alam ciptaan Tuhan, maka sebaliknya tambang adalah aktivitas yang merusak keindahan dan keharmonisan alam yang ada.

Adalah sangat keliru jika ada pemikiran yang mengatakan bahwa usaha tambang akan mensejahterakan masyarakat setempat. Realitasnya adalah bahwa usaha tambang hanya memperkaya pemilik modal dan kroni-kroninya serta menimbulkan kesenjangan sosial ekonomi yang semakin melebar. Realitas itu merupakan manifestasi prinsip ekonomi kapitalisme yang dijunjung tinggi oleh para pemilik modal. 

Kehadiran tambang emas di bukit Batu Gosok telah menimbulkan kekhawatiran dalam berbagai lapisan masyarakat, termasuk para tokoh agama. Dalam seminar sehari di Labuan Bajo tentang tambang emas di Batu Gosok yang dihadiri para aktivis lingkungan hidup, tua golo, tokoh agama, tokoh masyarakat dan unsur pemerintah berakhir dengan sikap menolak kehadiran usaha tambang Batu Gosok. Tidak berhenti sampai di situ, beberapa hari yang lalu lebih dari 200 massa dari berbagai golongan dan lapisan yang menyatakan diri sebagai masyarakat anti tambang melakukan aksi unjuk rasa dengan mendatangi Kantor Bupati Manggarai Barat, Kantor DPRD dan bergerak menuju lokasi tambang di bukit Batu Asam. Dalam slogannya mereka menegaskan 'Tolak Tambang, Harga Mati'. Pernyataan  sikap ini sangat jelas dan lahir dari suatu kesadaran atas dampak buruk kegiatan tambang yang sangat multidimensional.  *

Peminat konservasi dan pariwisata,  tinggal di Labuan Bajo

Share on Facebook    Share on Twitter
Print Email
1 dari 1 Halaman Komentar | First Prev Next Last

Green Peace??? Where are you, man??? The Komodo Park need you, please. Can you make something???

Posted by: Juandeflor | Kamis, 2 Juli 2009 | 00:00 WITA

KOMENTAR

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.

Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
  • Berita Terkini
  • Terpopuler

  • Muhammadiyah: Bantuan dari Pabrik Rokok Haram
  • Enam Pelabuhan PT Pelindo III Masih Merugi
  • Klub Peserta ISL Dapat Jatah Mobil
  • 52,50 Persen Guru di Bali Belum S1
  • Keluarga Minta Polda NTT Lidik Kematian ..
  • Gempa 7,0 SR Guncang Maluku Utara
  • Pupuk Kandang Mengandung H5N1
  • Pendidik di Maurole Digaji Rp 40 Ribu
  • 45 Orang Tewas Dalam Serangan Bom Bunuh Diri ..
  • Mesin Rental Atasi Listrik Jelang Jumat ..
  • Obama Tunda Kunjungan ke Indonesia
  • Prioritas KB Untuk Klinik Swasta dan ..
  • Badai Matahari 2012 Bukan Penyebab Kiamat
  • Mulus Lebihi Syarat Jumlah Kursi DPRD
  • Paket PDIP Manggarai Belum Aman
  • Manggana-Praing Resmi Mendaftar di KPU
  • Rokok Haram, Ribuan Petani Tembakau Kolaps
  • Lamahala-Horowura Kakak-Adik
  • Menyingkap Kasus Judi di Belu (1)
  • SBY Diminta Lebih Aktif Berantas Teroris
  • Asuhan Bayi Baru Lahir dan Inisiasi Menyusui Dini
  • Foto Topless Britney Spears
  • Habibie Pernah Bilang Soeharto Kurang Ajar
  • Harga Tiket Pesawat Dari dan Ke NTT Naik
  • Pramugari Telanjang Demi Keselamatan Penumpang
  • Siapa Mau Lamar Wanita Kaya Raya Ini?
  • Perempuan Perkosa 10 Pria
  • Apa Masalahnya kalau Istri Boediono Katolik?
  • Tunjangan Sertifikasi Guru Direalisasikan Awal Juli
  • Erni Manuk Jadi Tersangka
  • Pengumuman UN SMA/SMK Ditunda
  • Seranjang dengan Pacar Sejak Usia 11 Tahun
  • Obama Tepuk Lalat, SBY Nyemprot
  • Langkah Jitu Perkasa di Ranjang
  • Erni Manuk Ditangkap
  • 11.344 Siswa SMA NTT Tidak Lulus UN
  • Hentikan Kematian Ibu Bersalin dan Bayi di NTT
  • Tiap Tahun 700.000 Remaja Lakukan Aborsi
  • Bendahara KPUD Kupang Dipergok Berselingkuh
  • Tidak Heran SMA Mercusuar Lulus 100 Persen
Kanal: KOMPAS.com KOMPASbola KOMPASentertainment KOMPAStekno KOMPAStekno KOMPAScetak KOMPASforum Community KOMPASimages KOMPAStv
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
| About POS KUPANG | Pasang Iklan | Berlangganan |Privacy policy | Terms of use | Site Map | Contact Us | Statistik

©2010 POS KUPANG ONLINE — All rights reserved