• POS KUPANG.Com
  • POS KUPANG SPORT
  • SPIRIT NTT
  • TEENAGERS SPACE
  • Home
  • POS KUPANG NEWS
    • Kupang Watch
    • Kupang Plus
    • Kupang Crime
    • Polkam
    • Pro BISNIS
    • Nasional
    • Internasional
  • EDITORIAL
    • Kampungku
    • Salam
    • Beranda Kita
    • Opini
    • Tapaleuk
    • Pojok
  • REGIONAL NTT
    • Humaniora
    • Humbalorata
    • Flobamorata
    • Tirosa
    • Floresa
  • POS KUPANG MINGGU
    • Jendela Hati
    • Parodi Situasi
    • Puisi
    • Cerpen
    • Bianglala
    • Tamu Kita
    • Keluarga
    • Gaul
    • Bumi Kita
    • Community
    • Cerita Anak
  • LIFE STYLE
    • Buah Bibir
    • Cakrawala
    • Gossipi
  • Surat Pembaca
  • Blog
  • Archive
Google
/ Home / POS KUPANG NEWS / Polkam
Polkam
Pilpres Tak Mungkin Satu Putaran
Kamis, 2 Juli 2009 | 15:59 WITA

Jakarta, POS KUPANG.Com - Pengamat politik dari Universitas Indonesia Boni Hargens menyatakan Pemilu Presiden (Pilpres) tidak mungkin berlangsung dalam satu putaran.

"Pilpres satu putaran adalah suatu kemustahilan. Kalau itu terjadi pasti ada yang bermasalah dalam proses pelaksanaan pemilihan ataupun dalam hitungan yang dilakukan lembaga penyelenggara Pilpres," kata Boni di Jakarta, Kamis (2/7/2009).
 
Boni ketika berbicara dalam diskusi "Pro Kontra Polling Politik-Politik Polling dan Wacana Pilpres Satu Putaran" yang diselenggarakan "The Indonesia Leader Institute" menegaskan Pilpres tidak mungkin satu putaran dengan pertimbangan angka golongan putih (golput) diperkirakan masih tinggi dan perubahan perilaku pemilih juga tinggi.
 
Kalau golput berkisar 35 persen, katanya, maka ketiga pasangan calon presiden dan calon wakil presiden merebut 65 persen dari sekitar 172 juta pemilih.
 
"Kalau asumsi ketiga pasangan memiliki elektabilitas yang setara maka masing-masing mendapat 21,7 persen pada putaran pertama. Itu baru asumsi standard," kata dosen Ilmu Politik di Universitas Indonesia itu.
 
Asumsi yang lain, katanya, kalaupun pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono mendapat suara tertinggi tetapi tidak mungkin meraih 50 persen plus satu suara pemilih.
 
Mengenai hasil jajak pendapat dari sejumlah lembaga survei yang menyebutkan bahwa SBY-Boediono menang dalam satu putaran atau bahkan dari keyakinan tim sukses SBY-Boediono, menurut Boni, tidak bisa dijadikan acuan obyektif dalam menilai elektabilitas kandidat.
 
"Survei kuantitatif memiliki kelemahan mendasar yakni validitasnya lemah karena hanya mengukur sikap sementara pemilih. Survei tidak bisa menilai sikap pemilih yang bingung, tidak bisa mempertimbangkan sikap politik pemilih sebelum dan setelah survei diadakan, dan berbagai perubahan lain pada detik-detik setelah wawancara selesai," katanya.
 
Sementara itu kandidat Doktor dari UI M Fadjroel Rachman menegaskan bahwa tidak mungkin satu pasangan capres dan cawapres meraih 50 persen plus satu suara dengan sebaran di duapertiga provinsi sebagaimana dipersyaratkan dalam undang-undang.
 
"Mustahil meraih suara sebanyak itu dengan penyebaran di sebagian besar provinsi," kata Fadjroel yang juga pendiri Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan (Pedoman Indonesia).
 
Ia menyatakan bahwa pemilu presiden satu putaran merupakan komoditas politik dari salah satu pasangan calon dan tim sukses mereka.
 
Boni Hargens menambahkan mayoritas pemilih merupakan gabungan pemilih tradisional (parokial) dengan pemili kaula sehingga tidak seutuhnya rasional.
 
"Informasi yang diterima setiap saat bisa mengubah pilihan setiap saat juga," kata Boni yang juga Direktur Lembaga Pemilih Indonesia itu.
 
Ia mengatakan, berdasarkan kajian kualitatif Lembaga Pemilih Indonesia tahun 2009, terdapat 60-70 persen pemilih berkategori parokial dan kategori kaula, kurang dari 20 persen pemilih masuk dalam kategori pemilih kaula murni, dan kurang dari 10 persen masuk dalam kateogri pemilih partisipan.
 
Pemilih parokial dicirikan oleh rendahnya kesadaran untuk terlibat dalam proses politik, terbatasnya informasi dan pengetahuan mengenai politik, lemahnya kesadaran akan hak, kewajiban dan tanggung jawab sebagai warga negara.
 
Pemilih kaula memiliki kesadaran terlibat dalam proses politik tetapi masih pada tahap berfikir, belum sampai pada keterlibatan langsung.
 
Pemilih partisipan memiliki kesadaran, informasi, dan pengetahuan poitik yang memadai dan terlibat secara langsung dalam proses politik.
 
"Konteks ini tentu memberikan kontribusi signifikan mengapa praktik politik uang, mobilisasi, termasuk intimidasi, masih efektif dijadikan sebagai alat untuk menarik pemilih terutama dilakukan oleh pelaku politik yang tidak siap dengan kultur persaingan demokratik," katanya.
 

Komisi Pemilihan Umum (KPU) menjadwalkan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009 akan berlangsung pada 8 Juli dan bila harus berlangsung dalam dua putaran maka akan dilakukan pada 8 September 2009. (ANTARA) 

Share on Facebook    Share on Twitter
Print Email

KOMENTAR

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.

Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
  • Berita Terkini
  • Terpopuler

  • Polres Sikka Gantung Tiga Kasus Korupsi
  • Komunitas YSAI UPN Jogya Tanam Pohon Cemara
  • Mahasiswa HI-FISIP UPN Jogya gelar Diskusi ..
  • Dua terdakwa Pembunuh Rm Fautinus, Tunggu ..
  • APIK Pertanyakan Batas Hutan Lindung Oelbesak
  • Camat Perlu Mendapat Pembinaan
  • Son Pake Helm...
  • Warga Belo Minta Bangun Poskamling
  • Keracunan Ikan, 3 Tewas
  • APTI NTT Gelar Talk Show
  • BP Pemuda GMIT Horeb Gelar Lomba CCA
  • Cagar Alam Hutan Mutis Mulai Terancam
  • Gerson Yonathan Thonak, Jadi PNS Terlalu ..
  • Meriah, Konser Ruth Sahanaya
  • ChildFund Hijaukan Tiga Mata Air di Flores ..
  • Messi Dipuji Kawan dan Lawan
  • 13 Parpol Daftarkan Venus di KPUD Ngada
  • Kampung
  • Adoe: Kami Tidak Menembak
  • Warga Manulai II Ditikam di Jalur 40
  • Asuhan Bayi Baru Lahir dan Inisiasi Menyusui Dini
  • Foto Topless Britney Spears
  • Habibie Pernah Bilang Soeharto Kurang Ajar
  • Harga Tiket Pesawat Dari dan Ke NTT Naik
  • Pramugari Telanjang Demi Keselamatan Penumpang
  • Siapa Mau Lamar Wanita Kaya Raya Ini?
  • Perempuan Perkosa 10 Pria
  • Apa Masalahnya kalau Istri Boediono Katolik?
  • Tunjangan Sertifikasi Guru Direalisasikan Awal Juli
  • Erni Manuk Jadi Tersangka
  • Pengumuman UN SMA/SMK Ditunda
  • Seranjang dengan Pacar Sejak Usia 11 Tahun
  • Obama Tepuk Lalat, SBY Nyemprot
  • Langkah Jitu Perkasa di Ranjang
  • Erni Manuk Ditangkap
  • 11.344 Siswa SMA NTT Tidak Lulus UN
  • Hentikan Kematian Ibu Bersalin dan Bayi di NTT
  • Tiap Tahun 700.000 Remaja Lakukan Aborsi
  • Bendahara KPUD Kupang Dipergok Berselingkuh
  • Tidak Heran SMA Mercusuar Lulus 100 Persen
Kanal: KOMPAS.com KOMPASbola KOMPASentertainment KOMPAStekno KOMPAStekno KOMPAScetak KOMPASforum Community KOMPASimages KOMPAStv
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
| About POS KUPANG | Pasang Iklan | Berlangganan |Privacy policy | Terms of use | Site Map | Contact Us | Statistik

©2010 POS KUPANG ONLINE — All rights reserved