/ Home / Editorial / Salam /
Dewan yang Putih dan Hitam
Jumat, 3 Juli 2009 | 00:47 WIB

Bertempat di Aula Panti Don Bosco Lewoleba, Senin (29/6/2009),  lahirlah sebuah  ikhtiar belasan dari 25 anggota Dewan terpilih hasil Pemilu Legislatif 2009-2014. Para wakil rakyat ini telah membangun sebuah komitmen untuk tidak menjustifikasi lembaga itu terlibat atau secara perorangan  mengerjakan proyek-proyek pemerintah.    
Terobosan ini rasanya tepat dan merupakan upaya  mengembalikan citra Dewan  terhormat. Komitmen ini seolah-olah memberi image bahwa anggota Dewan sebelumnya larut dalam masalah-masalah seperti ini dan sebaliknya mengabaikan tugas utamanya sebagai wakil rakyat.   

Terlepas benar tidaknya isu permainan proyek oleh wakil rakyat sebelumnya, komitmen ini merupakan suatu warning. Peringatan bagi  DPRD baru untuk bersih diri.  Ia harus menjadi wakil rakyat sejati. Itu artinya peran, tugas dan fungsinya harus sesuai rel.  Akuntabilitas lembaga dan persona setiap wakil rakyat  menjadi taruhan.

Kita semua menyadari betapa pentingnya peran lembaga ini.  Peran ini memang tak kecil. Peran ini akan fokus bila tak dicemari oleh kiblat-kiblat tak sepatutnya. Dan, sudah menjadi rahasia umum, di mana-mana wajah Dewan kerapkali tersandung berbagai kasus.  Dewan  kita masih banyak sibuk dengan urusan perut.  Meski perannya di ruang publik, namun  perilakunya masih sering di ruang privat.

Ruang publik  itu begitu luas, bebas dan sayang jika dibiarkan tanpa aktivitas. Kalau saja dimanfaatkan secara positif,  maka akan dirasakan secara positif pula oleh masyarakat.       

Di aras nasional, ada anggota Dewan kita yang tertangkap komisi  pemberantasan korupsi (KPK) karena terlibat dalam kasus-kasus proyek. Begitu pula aras regional, bahkan di Lembata sendiri wakil rakyat itu menjalani proses hukum karena  dugaan korupsi dana purna bakti. Tentu masih banyak  "perangai" Dewan kita yang membuat setiap orang terhenyak tatkala menyaksikannya.

Kita harus jujur mengatakan bahwa masyarakat telah mengetahui  siapa anggota Dewan yang "putih" dan"hitam".  Masyarakat tahu  anggota Dewan yang  selama masa  tugasnya hanya mencari  "pekerjaan tambahan" dan anggota Dewan yang berkomitmen untuk memperjuangkan kepentingan umum.

Kita bangga bahwa  Dewan kita di Lembata yang masih "putih" ini sudah merintis dan sekaligus melanjutkan komitmen itu.  Mudah-mudahan itu bukan pajangan kata-kata belaka atau sebuah permainan yang tengah dimainkan. Jika benar itu sebuah komitmen, maka ia menjadi spirit perjuangan. Ia menjadi kompas atau arah perjuangan.

Kita mau katakan bahwa Dewan ini masih bermain di luar sistim. Mereka belum terlibat secara langsung  dalam percaturan politik yang lebih kompleks. Ini bukan sebuah kesangsian. Rasanya wajar, sebagai manusia biasa kita bisa terjebak, dijebak atau  secara sadar terlibat di dalamnya.

Dalam tataran permainan kita bisa mengidentifikasi dan bisa  memastikan anggota Dewan mana atau Dewan secara lembaga terlibat dalam sebuah permainan. Permainan yang kerap dilakukan adalah berteriak dengan lantang tanpa mundur, namun kemudian mereda, bahkan diam.  Atau menggunakan  "mulut" lain untuk berteriak dan menuai  sesuatu sesuai  interes pribadi. Dalam komunikasi politik, teriakan-teriakan seperti itu diterjemahkan sebagai upaya negosiasi atau ajakan untuk  berkompromi. 

Dalam praktik hal ini sudah menjadi rahasia umum. Sikap  seperti tawar-menawar, menekan dan mengintimidasi dengan berbagai pola pantas ditiadakan. Dan, hal ini butuh integritas diri. Butuh pembentengan diri yang kokoh meski menghadapi begitu banyak tawaran dan godaan materi.

Kita memang tak mau lagi profil Dewan kita yang  mudah disogok, mudah diperhamba oleh uang dan materi.  Apalagi, kita mencatat  anggota Dewan periode lima tahun ke depan merupakan profil wakil rakyat yang diandalkan dan selama ini selalu memberi kritikan pedas terhadap pelaksanaan  pemerintahan di sana.

Kesempatan ini mereka kembali diuji. Apakah mereka bisa  berjalan lurus atau sebaliknya? Apakah mereka tetap "putih" atau menjadi "hitam" dalam seleksi alam?
Yang patut dilakukan Dewan adalah memberi masukan konstruktif, mengawal  proses pembangunan agar berjalan sesuai harapan. Juga dapat menyuarakan hal yang benar demi kepentingan umum. Dengan kata yang lebih pas, bagaimana agar Dewan kita bisa obyektif dalam tugasnya. *

Dibaca 438 kali  |  Dikomentari 4 kali
<< Awal < Sebelumnya | 1 dari 1 Halaman Komentar | Selanjutnya > Akhir >>

Wallahualam....semoga mereka menjadi penganut budaya bebas korupsi...Kita lia jo...!

Komentar Oleh: Daniel Boli Kotan | Jumat, 3 Juli 2009 | 09:00 WIB

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Bayi Dimutilasi
Galeri POS KUPANG
Bayi Dimutilasi
more on galeri foto
Jumat, 3 September 2010 | 00:11 WIB
Kamis, 2 September 2010 | 00:02 WIB
Rabu, 1 September 2010 | 00:00 WIB
Selasa, 31 Agustus 2010 | 23:04 WIB
Senin, 30 Agustus 2010 | 15:49 WIB