Bahkan sembilan temannya yang lain duduk di tenda darurat yang mereka buat sendiri pas di tugu papan nama gedung DPRD NTT juga terlihat tidak mempedulikanya. Teman lainnya yang sedang membaca koran, yang lain duduk santai menghisap rokok dan yang lainnya sedang tidur. Pria hitam manis bertubuh kecil ini tetap saja menyampaikan orasi ilmiah.
Kedatangan Pos Kupang disambut dengan hangat olehnya. Iapun mempersilahkan duduk dan memberi isyarat kepada teman-temanya untuk berdiskusi. Itulah sekilas situasi para aktivis dari berbagai perguruan tinggi di Kota Kupang ini. Sudah tiga hari mereka membangun tenda biru di halaman gedung rakyat itu untuk memberikan aspirasi dan mengekspresikan kekesalan mereka kepada pengambil kebijakan. Yah, mereka adalah Yosep A Safa, mahasiswa Universitas Kristen Arta Wacana (UKAW) Kupang yang tergabung dalam Serikat Rakyat Miskin Indonesia, Marsel Tunbao (UKAW), Yustinus B Darma dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Lukas Bele dari Universitas PGRI NTT dan Mardonis dari Undana.
Yosef A Safa yang ditunjuk sebagai juru bicara (jubir), mengatakan, keberadaan mereka di tempat ini sebagai wujud mengekspresikan diri sebagai generasi muda dalam mencermati berbagai fenomena yang terjadi di negera dan daerah ini.
Safa mengatakan, pilihan menjadi seorang aktivis pemuda dilatari oleh sejarah perjuangan bangsa Indonesia di mana peran pemuda menjadi tulang punggung dan agen perubahan.
Sebagai seorang pemuda tentu memiliki perasaan untuk bersenang-senang mengekspresikan diri atau bermanja-manja kemana saja sesuai dengan keinginan hati. Namun, baginya dan teman-temanya semua itu tidak penting dan menjadi prioritas utama dalam kehidupan sebagai anak muda. Tetapi, eksistensi atau keberadaan seorang pemuda bagaimana bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain di sekitarnya. Apalagi, yang dilakukan itu adalah untuk perubahan banyak orang.
Sebagai seorang aktivis dirinya dan teman-teman memang harus banyak mengorbankan waktu dan diri sendiri untuk rela berpanas-panasan di jalan, ditolak dianggap berlebihan oleh masyarakat ataupun sesama generasi muda. "Saya tidak pikirkan semua itu, tetapi bagi saya perjuangan untuk kepentingan banyak orang dan bermanfaat bagi orang lain yang saya utamakan," katanya.
Mengekspresikan diri, kata Safa, bukan saja dengan ikut kegiatan formal di kampus, di gereja atau kegiatan ekstrakurikuler lainnya, tetapi dengan menjadi aktivis. Yah, memang banyak tantang menjadi aktivis apalagi yang berhubungan perjuangan akan sebuah perubahan.
"Saya sangat puas jika apa yang dilakukan bisa mempengaruhi sebuah sistim atau rejim dan melakukan perubahan. Yah, satu saja tujuanya adalah untuk kepentingan banyak orang. Menjadi aktivis sama saja dengan mereka yang begelut di bidang tarik suara atau seni lainnya. Kan semua sama-sama mengekspresikan diri," katanya.
Demi perubahan juga Safa dan teman-temanya harus melupakan ranjang empuk di kos atau kehidupan nyaman di rumah. Karena mereka memilih untuk tidur di alam terbuka dan di pinggir jalan. Menyinggung soal malam minggu yang akan dilewatkan di tempat itu, Safa mengatakan, sebagai anak muda pasti memiliki pacar dan berniat untuk melewati malam minggu dengan sang pacar. Tetapi, dia dan teman-temanya berharap pacar-pacar mereka yang akan datang menemani mereka di tempat tersebut.
"Ini kan di Jalan El Tari sebagai pusat mejengnya anak muda. Yah, sekalian saja kami harap pacar kami yang nyamperin kami ke sini. Kan asyik bisa melewati malam minggu bersama di tempat ini bersama pemuda lainnya," kata Safa disambut tawa teman-temanya.
Menurutnya, dari pada sebagai pemuda dan mahasiswa hanya bisa dari kampus, kos, kamar dan akhirnya ada-ada saja yang negatif. lebih baik memilih berorganiasi dan mendapat pelajaran luas dari aktivitas tersebut. (nia)