Sabtu, 6 Februari 2010 | 17:39 WITA
OBSESI dan pikiran ini penting. Setidaknya inilah yang ditunjukkan oleh Ketua Komisariat Daerah (Komda) Asosiasi Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Nusa Tenggara Timur (NTT), Daniel Charlin. Ia mengatakan, dalam masa kepengurusan 2010-2015, asosiasi ini akan fokus mengembangkan industri kerajinan kecil di daerah ini.
Dasar argumennya kuat, yakni bahwa daerah ini memiliki sumber daya alam yang memungkinkan. Kita punya tanaman jati berkualitas, tenunan yang memiliki nilai eksotik tinggi serta tanaman bambu yang tersebar luas di daerah ini. Bila sudah ada konsep pengembangan dan didukung oleh potensi alam, maka upaya kita sekarang adalah aksi nyata. Tak bisa lagi dengan jargon atau membuat gagasan tanpa diikuti dengan terobosan di lapangan. Selama ini sudah banyak konsep yang dilontarkan.
Begitu banyak pikiran tentang bagaimana upaya untuk mengembangkan salah satu sektor riil ini. Pikiran itu tak nyambung memang. Putus karena semua pihak masih berjalan masing-masing. Aplikasi masih sangat lemah.
Pikiran yang disampaikan Daniel ini sebenarnya mengingatkan kita untuk bangun dari mati suri. Sebagai ketua asosiasi, Daniel ingin menggugah semua pihak untuk melihat usaha kecil dan menengah, terutama usaha permebelan dan kerajinan.
Melihat di sini lebih pada upaya pemerintah, Dekranasda dan perbankan memberi bantuan. Pikiran itu baik. Punya prospek ke depan. Tentunya pada asosiasi kita harapkan melakukan silahturahmi dan pertemuan-pertemuan dengan pihak-pihak terkait, seperti pemerintah daerah/kota, DPRD, Dekranasda dan perbankan.
Kita harapkan dengan pertemuan itu asosiasi dan pemerintah menyatukan pikiran untuk membantu pengusaha kecil ini. Tentu yang kita harapkan adalah kucuran dana agar dapat menjawab berbagai persoalan yang menjadi kendala. Instansi terkait lainnya yang juga kita harapkan dukungan adalah Dekranasda. Selama ini Dekranasda yang diketuai ibu gubernur, ibu bupati/walikota punya aktivitas dalam membina dan mengembangkan kerajinan ini. Nah, di sanalah Dekranasda dan asosiasi ini mengawinkan pikiran dan program agar searah, sejalan.
Dengan pertemuan itu kita harapkan instansi teknis dapat memahami dan melakukan perencanaan-perencanaan, seperti alokasi biaya atau anggaran untuk dibahas bersama Dewan sebagai pemegang hak buget.
Pikiran kita adalah bagaimana menghilangkan pandangan yang mengetengahkan pinjaman dari pemerintah seakan gratis. Atau dengan kata lain, selama ini banyak masyarakat beranggapan bahwa bantuan dari pemerintah bukan menjadi kewajiban untuk mengembalikan.
Rasanya kita terlampau keliru bahkan naif bila masih berpandangan demikian. Dana atau bantuan dari pemerintah harus dikembalikan. Hanya barangkali perlu dibicarakan lagi masa pengembalian dan suku bunga yang meringankan.
Begitu pula pihak perbankan. Kita harapkan pengusaha permebelan dan kerajinan diberi kemudahan-kemudahan. Kemudahan itu seperti tak memberi agunan. Kita yakin kelompok ini adalah mereka yang secara ekonomi belum kuat. Apa yang mau diagunkan atau menjadi jaminan?
Dengan dana itu pula kita menyiapkan sumber daya manusia, managemen serta pemasaran. Para pemuda di daerah ini dapat mengikuti magang kerja di daerah yang sudah maju, seperti di Nusa Tenggara Barat atau daerah-daerah lain di negeri ini yang sudah sukses mengekspor kerajinan bambu dan usaha lainnya. Coba kita tengok manajemen pertenunan. Selama ini masyarakat kita tak geluti secara serius. Tenunan itu dilakukan di sela-sela kegiatan lain sehingga tak tuntas dalam waktu yang singkat. Justru berbulan dan bertahun. Kondisi ini tentu berpengaruh pada harga yang terbilang tinggi.
Padahal, bila dilakukan secara serius, maka tenunan itu bisa tuntas lebih cepat. Bila demikian maka harga pun tak terlampau mahal dan ia akan berdampak secara ekonomis. Kaum ibu misalnya, akan memanfaatkan hasil penjualan sarung atau usaha lain untuk kebutuhan keluarga. Asupan gizi terhadap anak-anak akan lebih baik. Ini merupakan sebuah mata rantai.
Bila sudah ada kemudahan ini, mengapa kita tak memulainya atau meneruskan usaha-usaha yang sudah berjalan ini? Yang utama saat ini membangun jaringan dengan semua pihak. Saat ini bukan zamannya lagi kita sendirian bermain di era pasar. Saat ini pasar adalah jaringan, networking, akses, lobi-lobi atau apa pun nama lainnya. *