|
|
|
Polkam
Pekerja Anak Harus Kembali ke Sekolah
Senin, 8 Februari 2010 | 12:13 WITA
KUPANG, POS KUPANG. com -- Pekerja anak yang sudah menjadi masalah sosial perlu dikembalikan ke sekolah. Anak merupakan investasi jangka panjang yang perlu mendapat perhatian sedini mungkin. Jika tidak ditangani segera, akan menjadi bom waktu.
Masalah pekerja anak di NTT menjadi perhatian ILO-East bergandengan tangan dengan Yayasan Nusa Bunga menggelar lokakarya di Hotel Ina Boi, Jumat (5/2/2010). Lokakarya ini membahas secara mendalam berbagai strategi advokasi agar anak-anak usia sekolah yang terpaksa bekerja karena tekanan ekonomi dan sosial dikembalikan ke sekolah. Sejak 2008, Ilo East dan Yanubadi mengadakan pelatihan bagi 62 orang instruktur dari 31 PKBM dan 353 stakeholder pendidikan dari 51 sekolah satu atap (Satap) dan sembilan SMP Terbuka serta beberapa kegiatan lainnya yang berkaitan dengan isu pekerja anak, termasuk lokakarya. Lokakarya yang menampilkan pimpinan ILO East NTT, Fausan, Ketua SPSI, Stanis Tefa, Biro Pemberdayaan Perempuan yang diwakili Erni Napu, Kadis Nakertrans yang diwakili Herman dan Bappeda NTT diwakili Donald Isahak dengan moderator, dr. Teda Litik mengumpulkan berbagai pendapat seputar masalah anak yang bekerja. Anak yang dimaksud berusia 13-15 tahun yang semestinya duduk di bangku SMP. Ketua Yanubadi, Ny. Mien Patimangoe dalam sambutannya, mengajak birokrat, aktivis LSM, aktivis perempuan, politisi dan pers agar memberikan perhatian penuh terhadap anak yang bekerja. Semua pihak perlu memberikan sumbangan pemikiran kepada yayasannya agar bersama ILO East dapat mengeliminir anak usia sekolah yang terpaksa bekerja untuk kembali ke sekolah. Semangat ini disambut baik oleh anggota DPRD NTT yang hadir, Alfred Baun, Merci Piwung dan Stanis Tefa, pejabat birokrat dan stakeholder lainnya. Menurut Alfred Baun, langkah apa saja yang diambil dalam mengatasi masalah pekerja anak membutuhkan regulasi. Untuk itu, dia akan membicarakan hal itu di ruang sidang agar ke depan ada perda yang mengatur soal itu. Dengan demikian tidak terjadi salah kaprah. Semua sepakat perlu ada sekolah model yang mampu menampung anak-anak yang seharusnya sekolah, tapi karena tekanan ekonomi dan lain-lain terpaksa bekerja. Sekolah tersebut, selain mengajarkan pengetahuan, juga mendidik mereka dengan keterampilan khusus agar menjadi bekal di masyarakat. (gem)
KOMENTAR Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA. |
|
