Informasi yang dihimpun Pos Kupang di Markas Kotis Brimobda Kompi A Belu, menyebutkan, penyergapan para penjudi ini dilakukan, Sabtu (6/2/2010) sekitar pukul 23.00 Wita di gudang Toko Bahagia milik Yulius Mintura. Para tersangka sebagian merupakan pemain lama yang juga merupakan target operasi (TO).
Ke-13 tersangka yang ditangkap, yakni Roni Prasetio (Kupang), Hironimus Lay (Kupang), Aloysius Mintura (Atambua), Vinsensius Manek (Atambua), Trensius Lasakar (Atambua), Mikael Leo (Kupang), Alex Prasetio (Kupang), Jhon Lau (Kupang), Joni Gunawan (Kupang), Patrik Min Fernandes (Atambua), Yulius Mintura (Atambua), Paulus Jubun (Atambua) dan Hendro Liman Toni (Atambua).
Penggerebekan dipimpin Kanit Resmob, Bripka Antonio do Santos, bersama anggotanya Brigpol Chery Situmorang, Briptu Luan Bere, Briptu Avelino Fernandez, Briptu Hady Mulyono, Briptu Hendro Wibowo. Tim brimobda sejak Jumat (5/2/2010) sudah melakukan pemantauan, namun belum berhasil membekuk karena keburu bocor. Baru pada Sabtu (6/2/2010) sekitar pukul 23.00 Wita, tim brimobda berhasil masuk ke lokasi perjudian dan menangkap 13 tersangka. Salah satu tersangka yang diduga Kanit Buser, Aipda Soleman Kapitan, berhasil meloloskan diri dan belum menyerahkan diri ke Mapolres Belu.
Pantauan Pos Kupang, para tersangka sejak ditangkap Sabtu (6/2/2010) pukul 23.00 Wita sampai Minggu (7/2/2010) pukul 20.00 Wita diamankan di Markas Kotis Brimobda Belu. Hari Minggu (7/2/2010) pukul 20.15 Wita, para tersangka dikawal aparat brimob dihantar ke Mapolres Belu di bawah guyuran hujan.
Dari catatan petugas di pos Polres Belu terlihat dari 13 penjudi ini 8 di antaranya beralamat di Atambua, 5 lainnya dari Kupang dan 1 dari Kefamenanu. Barang bukti yang disita, yakni uang tunai Rp 210.550.000, satu pucuk senjata dengan 12 butir peluru yang diduga milik Kanit Buser, 11 handphone, 21 mata dadu, 1 kalkulator, 26 koin untuk kuru-kuru.
Kapolres Belu, AKBP Drs. Sugeng Kurniaji, ketika dikonfirmasi Pos Kupang mengaku belum mendapat laporan. "Belum ada laporan, silahkan cek ke kantor," tulis Kapolres Sugeng dalam pesan SMS.
Danki Brimob Kompi A Belu, Iptu Lazarus Neslaka, ketika ditemui di Kotis sekitar pukul 18.00 Wita Minggu (7/2/2010), mengatakan, pihaknya baru mau melaporkan kasus ini ke Kapolres Belu. Karena itu, Neslaka belum berani memberikan keterangan. (yon)
Roni Prasetio (Kupang)
Hironimus Lay (Kupang)
Aloysius Mintura (Atambua)
Vinsensius Manek (Atambua)
Trensius Lasakar (Atambua)
Mikael Leo (Kupang)
Alex Prasetio (Kupang)
Jhon Lau (Kupang)
Joni Gunawan (Kupang)
Patrik Min Fernandes (Atambua)
Yulius Mintura (Atambua)
Paulus Jubun (Atambua)
Hendro Liman Toni (Atambua).
Tersangka yang Ditangkap
Salut dengan Brimob Belu...bebaskan kotaku dari mafia judi,..jangan lupa judi di mete orang mati dan minum mabu, untuk atambua lebuh maju..profisiat brimob Belu...
Pertanyaannya : "Kok Kanit Buser berani ya BERJUDI, ditengah riuhnya teriakan Kapolres untuk BERANTAS JUDI (sebagai mitra Pemda dan pengayom masyarakat)..."..? Setiap saat (siang-malam) mobil Dalmas bergerilya apakah hanya sekedar cari tahu penyakit kemayarakatan, unjuk kuasa atau tunaikan kewajiban bernuansa formalitas? Tapi itu tidak penting. Yang penting adalah : DALMAS yg bergerilya, tetapi yang bisa tangkap adalah BRIMOB....... Bravo BRIMOB..
wahhh......semoga mereka diproses sesuai hukum yg berlaku. Namun yg memalukan ada keterlibatan aparat. Apakah Polisi akan berani memproses anggotanya yang terlibat? Berdasarkan pengalaman,beberapa kasus yg melibatkan aparat,biasanya lambat prosesnya. Lihat saja kasus alm.Paulus Usnaat yg sudah hampir 2 tahun,prosesnya blm selesai,itu karena ada keterlibatan aparat. Semoga polisi tidak saja fokus dengan warga sipil, tapi juga serius menangani keterlibatan anggotanya.
wahhh......semoga mereka diproses sesuai hukum yg berlaku. Namun yg memalukan ada keterlibatan aparat. Apakah Polisi akan berani memproses anggotanya yang terlibat? Berdasarkan pengalaman,beberapa kasus yg melibatkan aparat,biasanya lambat prosesnya. Lihat saja kasus alm.Paulus Usnaat yg sudah hampir 2 tahun,prosesnya blm selesai,itu karena ada keterlibatan aparat. Semoga polisi tidak saja fokus dengan warga sipil, tapi juga serius menangani keterlibatan anggotanya.
Profficiatbuat Pak Brimob.......Penyakit masyarakat yang bengini yang harus di tuntaskan......sekali lagi Profficiat..