• POS KUPANG.Com
  • POS KUPANG SPORT
  • SPIRIT NTT
  • TEENAGERS SPACE
  • Home
  • POS KUPANG NEWS
    • Kupang Watch
    • Kupang Plus
    • Kupang Crime
    • Polkam
    • Pro BISNIS
    • Nasional
    • Internasional
  • EDITORIAL
    • Kampungku
    • Salam
    • Beranda Kita
    • Opini
    • Tapaleuk
    • Pojok
  • REGIONAL NTT
    • Humaniora
    • Humbalorata
    • Flobamorata
    • Tirosa
    • Floresa
  • POS KUPANG MINGGU
    • Jendela Hati
    • Parodi Situasi
    • Puisi
    • Cerpen
    • Bianglala
    • Tamu Kita
    • Keluarga
    • Gaul
    • Bumi Kita
    • Community
    • Cerita Anak
  • LIFE STYLE
    • Buah Bibir
    • Cakrawala
    • Gossipi
  • Surat Pembaca
  • Blog
  • Archive
Google
/ Home / Teenagers / Indah Budayaku
Indah Budayaku
PadoA Menghentak Pulau Dewata
Foto IST

Tarian Padoa saat dibawakan di Hotel Shanti, Denpasar, Bali, Selasa (23/1/2010). Tarian ini mendapat sambutan yang luar biasa dari para wisatawan.
Senin, 8 Februari 2010 | 23:41 WITA

TARIAN Pado a asal Pulau Sabu-Nusa Tenggara Timur menghentak di beberapa hotel berbintang di Pulau Dewata-Bali, Selasa-Rabu (23-24/1/2010) lalu.



Sebanyak 25 orang penari yang didatangkan oleh Daniel Mone, SE yang juga owner Bravo Indonesia Tour & Travel di Bali untuk memeriahkan HUT ke-25 Perhimpunan Keluarga Suka Duka KOLORAI HAWU Bali.

Tim kesenian yang datang langsung dari Sabu ini tampil pertama di Hotel Shanti-Bali. Pertunjukan dengan menampilkan original tradisonal Sabu, mulai dari busana hingga gerak ini langsung mengundang perhatian yang luar biasa dari para tamu yang hadir dalam acara tersebut.

Putra NTT yang berkarya di Bali, Mario Kundus Bano  dari Bali melaporkan, pertunjukan yang spektakuler tersebut merupakan perjuangan keras anak-anak Sabu di Bali. Tidak saja tenaga, namun juga biaya yang tidak kecil untuk bisa menghadirkan tarian khas Sabu tersebut.

Dengan make up seadanya mereka berhasil memukau warga Sabu di Bali yang kebanyakan orang Sabu kelahiran Bali dan masih banyak diantaranya yang belum pernah ke Pulau Sabu, tanah asal tercinta.

Acara semakin seru ketika para penari mulai membawakan Tarian Pado’a. Penonton dibuat terkesima melalui gerakan-gerakan dinamis para penari yang rata-rata masih berusia remaja.

Namun keterpanaan dan  keingintahuan penonton akhirnya terobati ketika semua hadirin diajak untuk ikut serta menari Tarian Pado’a. Dalam bentuk lingkaran besar, penari dan penonton seakan akan menunjukkan bahwa malam itu  tidak ada perbedaan, semua satu dan seolah-olah tengah berada di Pulau Sabu tercinta.

Seperti yang diungkapkan Mince, wanita asal Sabu kelahiran Bali yang sama sekali belum pernah ke Sabu. Begitu pun Janet Sulaeman, wanita asal Manado yang bersuamikan Jefry Rade asal Sabu.

Menurutnya, "Minimal saya bisa melihat dan memahami karakteristik orang Sabu berupa sifat dan keramahan-tamahan, keceriaan, serta keterbukan walaupun hanya ditunjukkan melalui pertunjukan  tarian Ledo dan Pado’a," jelas Janet.

Menurut Daniel yang juga seorang Consultant Management and Accounting ini, kegiatan ini membutuhkan biaya yang tidak kecil, namun hal tersebut tidak menjadi masalah utama untuk menyelenggarakan kegiatan memperkenalkan Sabu kepada para wisatawan lokal maupun mancanegara ini.

"Kalau berbicara mengenai jumlah biaya, ya, relatiflah, namun yang terpenting adalah niat. Setiap niat yang tulus pasti selalu ada jalan," ungkap Daniel.

Ternyata niat ini tidak sia-sia. Justru kedatangan tim kesenian tersebutlah yang menjadikan perayaan HUT ke-25 Perhimpunan Keluarga Suka Duka KOLORAI HAWU Bali menjadi berbeda dengan perayaan tahun-tahun sebelumnya

Kurang Perhatian Pemerintah
Lebih lanjut Daniel Mone dari Bravo Indonesia Tour & Travel Bali yang menjadi salah satu sponsor dalam acara ini mengatakan, Pemerintah Kabupaten Sabu-Raijua kurang memberikan perhatian pada kegiatan ini.

Padahal ini merupakan salah satu bentuk promosi pariwisata di kabupaten yang baru terbentuk itu. 

 Kurangnya perhatian dari Pemda tidak akan  menyurutkan niat kami, Walaupun upaya ini terbilang masih sangat kecil,  namun itulah setitik upaya orang Sabu di Bali terutama Perhimpunan Keluarga Suka Duka KOLORAI HAWU Bali, telah mengawali event ini, selanjutnya tergantung Pemda setempat apa perlu dilanjutkan," ungkap Daniel.

Menurutnya, harapan warga Sabu di Bali adalah event-event seperti ini bisa berlanjut. "Minimal kami sudah mengawali sebagai salah satu bentuk pengabdian orang Sabu di rantauan untuk mempromosikan Pulau Sabu bagi wisatawan mancanegara di Pulau Bali. (alf/*)

Tarian Asal  Sabu:
* Tari Padoa: melambangkan kesenangan masyarakat Sabu akan hasil panen yang berhasil.
* Tari Ledo Hawu: Tarian ini biasa dibawakan pada saat upacara kematian kepala adat, dengan maksud mengusir setan di tengah jalan agar perjalanan arwah ke hadapan pencipta tidak dihalangi. Istilah lain dari tari ini dapat dikatakn sebagai penyapu ranjau. (www.kab-kupang.go.id)
 

Share on Facebook    Share on Twitter
Print Email
1 dari 1 Halaman Komentar | First Prev Next Last

Salut untuk keluarga suka Duka Kolorai Hawu. Kakak saya pernah menjadi bagian dari Perhimpunan keluarga Sabu di Bali ini. Ternyata masih ada dan berkembang sanpai saat ini. Terima kasih kepada Ama Daniel yang telah berkorban mempromosikan Sabu dengan kebudayaan lewat tarian kas Pulau/Kabupaten ini. Semoga tetap berjaya di Bali dan Sabu.

Posted by: Marloyati Rohi | Selasa, 9 Februari 2010 | 17:15 WITA

jadi tambah sama Sabu ... !! ( http://flobamora.shoutem.com )

Posted by: miki mone | Selasa, 9 Februari 2010 | 15:26 WITA

dua jempol buat bung Daniel Mone dan semua sdr-sdr sabu yang ada di bali, semoga pemda sabu menjadikan moment ini sebagai pembelajaran agar kesenian sabu bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong selain daerahnya yg eksotik, Selamat buat semua yang terlibat sehingga acara ini berlangsung, terimakasih

Posted by: ina garo | Selasa, 9 Februari 2010 | 07:37 WITA

KOMENTAR

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.

Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
  • Berita Terkini
  • Terpopuler

  • APIK Pertanyakan Batas Hutan Lindung Oelbesak
  • Camat Perlu Mendapat Pembinaan
  • Son Pake Helm...
  • Warga Belo Minta Bangun Poskamling
  • Keracunan Ikan, 3 Tewas
  • APTI NTT Gelar Talk Show
  • BP Pemuda GMIT Horeb Gelar Lomba CCA
  • Cagar Alam Hutan Mutis Mulai Terancam
  • Gerson Yonathan Thonak, Jadi PNS Terlalu ..
  • Meriah, Konser Ruth Sahanaya
  • ChildFund Hijaukan Tiga Mata Air di Flores ..
  • Messi Dipuji Kawan dan Lawan
  • 13 Parpol Daftarkan Venus di KPUD Ngada
  • Kampung
  • Adoe: Kami Tidak Menembak
  • Warga Manulai II Ditikam di Jalur 40
  • Polisi Buka Kembali Kasus Usnaat
  • Raibnya Kayu Sitaan Polair NTT: Komisi III ..
  • Anggota Polresta Dikeroyok Pria Berkepala ..
  • Selamat Tinggal Beckham
  • Asuhan Bayi Baru Lahir dan Inisiasi Menyusui Dini
  • Foto Topless Britney Spears
  • Habibie Pernah Bilang Soeharto Kurang Ajar
  • Harga Tiket Pesawat Dari dan Ke NTT Naik
  • Pramugari Telanjang Demi Keselamatan Penumpang
  • Siapa Mau Lamar Wanita Kaya Raya Ini?
  • Perempuan Perkosa 10 Pria
  • Apa Masalahnya kalau Istri Boediono Katolik?
  • Tunjangan Sertifikasi Guru Direalisasikan Awal Juli
  • Erni Manuk Jadi Tersangka
  • Pengumuman UN SMA/SMK Ditunda
  • Seranjang dengan Pacar Sejak Usia 11 Tahun
  • Obama Tepuk Lalat, SBY Nyemprot
  • Langkah Jitu Perkasa di Ranjang
  • Erni Manuk Ditangkap
  • 11.344 Siswa SMA NTT Tidak Lulus UN
  • Hentikan Kematian Ibu Bersalin dan Bayi di NTT
  • Tiap Tahun 700.000 Remaja Lakukan Aborsi
  • Bendahara KPUD Kupang Dipergok Berselingkuh
  • Tidak Heran SMA Mercusuar Lulus 100 Persen
Kanal: KOMPAS.com KOMPASbola KOMPASentertainment KOMPAStekno KOMPAStekno KOMPAScetak KOMPASforum Community KOMPASimages KOMPAStv
Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
| About POS KUPANG | Pasang Iklan | Berlangganan |Privacy policy | Terms of use | Site Map | Contact Us | Statistik

©2010 POS KUPANG ONLINE — All rights reserved