"Santai saja lagi. Biasalah. Ini penyakit orang kita. Bukan orang kita namanya kalau bukan malaria dan demam berdarah. Memang sudah demikianlah adanya, terus mau diapakan? Tiap tahun malaria, tiap tahun demam berdarah... Sudahlah, kamu tidak perlu gugup seperti itu. Awas ya, nanti kamu dicap bukan orang kita! Mau kamu!"
"Jelas tidak mau. Sekali orang kita tetap orang kita bukan?"
Demikianlah dialog antara seseorang dan Jaki yang terjadi pada malam Minggu lalu. Intinya Jaki sampaikan kepada Dokter Nona Mia supaya tidak usah khawatir dengan malaria dan demam berdarah yang terus mewabah. Bukankah ini penyakit yang so pasti datang setiap tahun? Maka, demikian juga sikap Nona Mia soal malaria dan demam berdarah, bahkan lebih parah lagi.
***
Proposal apa lagi yang diajukan? Penyuluhan Kesehatan Lingkungan? Hmm, supaya masyarakat mengerti tentang kesehatan lingkungannya, tahu tentang berbagai penyakit berbasis lingkungan. Apa lagi? Oooh, pemberantasan malaria dan demam berdarah? Berapa anggaran yang dibutuhkan? Waduh! Setiap tahun suluh melulu, hasilnya malaria lagi dan lagi-lagi demam berdarah. Kamu sendiri bagaimana? Juga mengajukan anggaran untuk suluh malaria di lingkungan tempat tinggalmu? Oooh, kamu demam? Mulai kapan? Sudah minum obat atau belum?
"Sakit apa kamu kalau bukan sakit malaria?"
"Sakit malarindu!"
"Malarindu? Semacam demam berdarah atau jenis malaria model apa lagi?"
"Malaria model proyek!"
"Proyek? Sakit proyek maksudmu?"
"Ya!"
"Suaramu jangan bengkok seperti itu, jangan marah-marahlah. Santai saja lagi. Penyakit malaria itu penyakit orang kita. Demam berdarah apalagi! Itu lebih orang kita lagi. Kamu marah kenapa dan untuk apa?"
"Capek rasanya urus ini penyakit malaria dan demam berdarah. Setiap tahun selalu, namun selalu juga saya kaget setengah mati dan kelimpungan ketika kasus-kasus meningkat tajam."
"Jadi, kamu mau ajukan proposal untuk proyek pemberantasan malaria atau demam berdarah? Oh, mau suluh kebersihan lingkungan? Apa? Malarindu?"
"Ya, saya mau ajukan proposal untuk penyakit malarindu!"
"Penyakit apa pula itu?"
***
Rupanya Nona Mia marah karena malaria setiap tahun, pasti! Demam berdarah setiap tahun, langganan! Tidak sedikit anggaran untuk pemberantasan malaria, berbagai jenis obat malaria, dan terutama berbagai proyek pemerintah, LSM, dan berbagai mitra yang bergelut dalam proyek malaria dan demam berdarah. Anggaran turun tiap tahun, tetapi hasilnya sungguh-sungguh mengecewakan. Malaria lagi, demam berdarah lagi. Rasanya tanah kita ini bukan tanah kita namanya kalau belum kena malaria. Karena itulah dia ajukan proposal pemberantasan penyakit malarindu, bukan malaria, apalagi demam berdarah. Tujuannya untuk membuat kejutan kepada teman-temannya bahwa, penyakit ini selama ini seolah-olah sudah jadi bagian hidup yang harus ada. Jadi biar saja ada terus, rindu terus, lingkungan kotor terus, dan sekalian saja siap segala tempat untuk buat bibit penyakit malaria dan demam berdarah, biar lengkap sekalian.
***
"Malarindu? Ha ha ha... Cocoklah dengan karakter orang kita." Jaki memberi pujian. "Aku tahu alasannya. Malarindu saja untuk demam berdarah dan segala jenis penyakit malaria yang lain. Penyakit yang selalu dirindukan, bahkan sudah masuk ke dalam alam bawah sadar bahwa memang ada, selalu ada, dan selamanya. Jadi kalau Dokter Nona Mia ajukan proyek malarindu, pasti diterima. Sebab ini proyek setiap tahun. Rutin. Anggaran yang pasti turun setiap tahun, sehingga kreativitas pun dibelenggu oleh malaria lagi dan demam berdarah lagi. Tidak ada pikiran untuk lainnya selain malarindu. Demikianlah!" Komentar Jaki membuat telinga Nona Mia merah padam. "Pasti kamu kalau demam, bukan demam malaria, bukan demam berdarah, tetapi demam proyek ya? Demam malarindu?"
"Proyekmu dalam bentuk apa Nona Mia?" Benza berusaha memahami kondisi pikiran dan perasaan Dokter Nona Mia.
"Pembibitan nyamuk malaria dan demam berdarah? Kita buat sarang-sarang nyamuk di mana-mana," jawab Nona Mia. "Biar semua kita kena malaria rame-rame, kena demam berdarah rame-rame! Kena malarindu rame-rame. Puas bukan?"
"Tidak perlu," sambar Jaki dan Rara bersamaan.
"Kita sudah punya sarang di mana-mana, buat apa buat sarang baru?" Kata Jaki. "Kasihan ya, dokter cantik jelita yang bingung bin bingung..."
***
Rupanya hanya Benza yang mengerti bagaimana perasaan Dokter Nona Mia yang setiap tahun pontang-panting memberi penyuluhan kebersihan lingkungan, selalu berusaha menanamkan pentingnya 3 M, selalu meyakinkan berkali-kali bahwa kita akan bebas dari malaria dan demam berdarah, kalau lingkungan sekitar kita bebas dari sarang nyamuk. Namun hasilnya sama dengan malaria lagi demam berdarah lagi. Makanya dia ingin buat proyek malarindu untuk mengganggu pikiran orang kita bahwa penyebab utama maraknya penyakit ini dari tahun ke tahun adalah kita sendiri. (maria mathildis banda)