Dari 38 teroris yang diringkus, tujuh diantaranya di tembak mati, sedangkan 31 lainya sudah diringkus dan masih hidup.
Teroris yang ditembak mati, itu diantaranya Azahari, Noordin M Top, dan terakhir Dul Matin. Tapi, apakah matinya para pentolan teroris itu turut mematikan jaringannya di Indonesia?
Tidak. jaringan teroris masih tetap hidup. Karena itu, setiap warga harus waspada dan laporkan kepada aparat keamanan bila melihat oknum yang dicurigai.
Pengamat terorisme, Mardigu Wowiek Prasantyo, mengatakan hal itu, Sabtu (13/3/2010) siang. Dia menyebutkan, yang terjadi saat ini adalah perang sel. Pelaksanaan pelatihan di Aceh, bagian dari pembentukan sel-sel baru.
"Di Aceh itu, mereka pasti diajari membuat bom, dan bagaimana membangun basis. Setelah selesai pelatihan, mereka dilepas. Dan ketika dilepas ini, mereka merupakan sel-sel baru yang kemudian menunjuk amir (pimpinan) selnya sendiri," kata Mardigu, saat mengisi diskusi mingguan Radio Trijaya "Masih Ada Teroris" di Jakarta.
Sel-sel ini bisa bergerak kapan saja, saat mendapatkan instruksi dari amir kelompoknya. "Ini disebut silent army. Ada berapa banyak selnya? Banyak sekali," ujar dia.
Kelompok teroris, berdasarkan penelitian yang dilakukannya, terdapat dua aliran, yaitu hardcore dan softcore. Kelompok hardcore didoktrin untuk melakukan jihad dan menghalalkan darah.
Selain itu, sebagian besar para teroris ini bukan berasal dari keluarga termarjinal ataupun dari keluarga dengan tingkat ekonomi rendah. "Mereka rata-rata pinter, sekolah tinggi," kata Mardigu. (kompas.com - editor kro)