|
Usir El Nino, Kembali ke Kebun
Spirit NTT Nomor 175 Tahun IV, Edisi 7-13 September 2009
humas pemkab sumteng SEORANG petani membersihkan kebun jagungnya. Selain jagung, di lahan yang sama dapat ditanami kacang-kacangan, umbi-umbian sebagai makanan khas untuk mengantisipasi El Nino. Rabu, 9 September 2009 | 15:30 WITA
WAIBAKUL, SPIRIT-- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumba Tengah (Sumteng) menggalakkan program Gerakan Kembali ke Kebun untuk mengantisipasi dampak El Nino. Sasarannya, agar warga dapat mengoptimalkan lahan kebunnya untuk menjaga ketersediaan pangan tahun ini. - scaner: foto/spirit ntt/sumba tengah: 0709--petani di kebun-
Wakil Bupati Kabupaten Sumteng, Umbu Dondu mengatakan itu saat ditemui di kantornya, Sabtu (29/8/2009). Dia dikonfirmasi tentang langkah antisipasi Pemkab Sumteng menghadapi dampak el nino. Program ini dilakukan untuk memanfaatkan lahan yang ada guna menanam berbagai tanaman lokal agar stok makanan warga tetap tersedia pada musim kemarau panjang nanti. Sumber air untuk mengelola lahan itu bisa dimanfaatkan melalui air kali, sumur bor dan danau. Dondu mengatakan, masalah ketersediaan makanan merupakan suatu budaya sendiri rakyat daerah ini. Semenjak dahulu kala, nenek moyang tidak pernah mengenal raskin, PKH, BLT. Tetapi mereka menanam berbagai jenis umbi-umbian, kacang-kacangan dan pisang pada lahan yang tersedia. Produk tanaman ini merupakan makanan pokok. Melihat fenomena seperti ini, Dondu mengatakan, pemerintah akan membangkitkan lagi semangat rakyat untuk mengelola kebun dan lahannya dengan menanam jagung, umbi-umbian, kacang-kacangan, pisang dan beberapa tanaman umur panjang seperti kelapa, kemiri, mente dan sebagai penyedia stok makanan masyarakat setempat. Untuk melihat tindaklanjut program kembali ke kebun itu, Dondu mengatakan, dia dan bupati akan turun langsung ke seluruh desa guna memonitoring persiapan warga dalam mengelola kebun hingga berproduksi nanti. Tanpa upaya seperti itu dikhawatirkan program gerakan kembali ke kebun hanya sebatas teori tanpa ada implikasi lapangan yang berdampak merugikan rakyat sendiri. Dalam mewujudkan program ini, pemerintah akan memafaatkan pula seluruh petugas penyuluh lapangan (PPL) guna memberikan dampingan teknis memadai agar produksi petani memuaskan pula. Lebih lanjut Dondu mengatakan, anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) tahun 2009 maupun APBD perubahan tahun 2009 belum mengakomodir anggaran khusus untuk menangani dampak El Nino. Tetapi, pemerintah daerah telah menyiapkan dana cadangan sebesar Rp 2,5 miliar untuk mengantisipasi ancaman El Nino itu. Hanya saja, kata Dondu, dana tersebut masih sangat kecil. Karena itu, pemerintah akan menganggarkan dalam APBD tahun 2010 dengan menambah jumlah yang lebih signifikan. (pet)
komentar
|
|