Menunjang Ketahanan Pangan Keluarga
Spirit NTT Nomor 182 Tahun IV, Edisi 26 Oktober-1 November 2009
Kamis, 29 Oktober 2009 | 10:50 WITA

PERAN strategis sistem ketahanan pangan akan terwujud apabila tiga subsistem, yaitu subsistem ketersediaan, subsistem distribusi dan subsistem konsumsi terintegrasi dengan baik. Kebijakan pada subsistem konsumsi pangan diupayakan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat agar mempunyai pemahaman atas pangan, gizi dan kesehatan secara baik, sehingga dapat mengelola konsumsi secara optimal.

Pada hakekatnya untuk mencapai status penduduk yang lebih baik diperlukan upaya perbaikan konsumsi pangan. Perbaikan konsumsi pangan penduduk berarti meningkatkan jumlah pangan dan gizi serta mutu makanan yang dikonsumsi. Upaya perbaikan gizi tersebut harus dimulai sejak dini, yaitu sejak bayi.

Masa bayi (0-12 bulan) adalah masa yang paling penting dalam perkembangan manusia. Hal ini karena pada masa inilah terjadi perkembangan otak dan kecerdasan yang akan mempengaruhi masa dewasa. Kekurangan gizi pada masa bayi akan mengakibatkan terganggunya perkembangan mental dan kemampuan motorik anak yang tidak dapat diperbaiki pada periode selanjutnya. Oleh karena itu pemberian makanan yang baik secara kualitas dan kuantitas sangat diperlukan oleh bayi.

Air susu ibu (ASI) merupakan makanan utama bagi bayi, karena ASI mengandung hampir semua zat gizi dengan komposisi yang sesuai bagi kebutuhan bayi. Akan tetapi kecukupan komposisinya hanya sampai usia 4 bulan, sehingga sejak usia 4 bulan sudah perlu diberikan makanan tambahan selain tetap diberikan ASI. Pada usia 4 bulan pencernaan bayi mulai kuat sehingga pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) bisa diberikan karena jika terlalu dini akan menurunkan konsumsi ASI dan mengalami gangguan pencernaan, tetapi apabila terlambat akan menyebabkan kurang gizi bila terjadi dalam waktu yang lama.

Dalam upaya pembangunan sumberdaya manusia, anak paling rentan terhadap berbagai gangguan. Dibandingkan usia dewasa, anak mempunyai risiko kematian (mortalitas) dan kesakitan (morbiditas) yang lebih tinggi. Apalagi di negara berkembang seperti Indonesia, berbagai penyakit infeksi dan gangguan gizi mengancam kelangsungan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Dari beberapa penelitian diketahui bahwa anak-anak Indonesia yang lahir akan bertahan dengan keadaan gizi baik hingga 6 bulan, namun setelah 6 bulan keadaan gizi mulai menurun. Hal ini terjadi karena kebutuhan gizi semakin meningkat, sementara produksi ASI semakin menurun dan pemberian MP-ASI belum sesuai dengan kecukupan gizi bayi. Kondisi ini pada gilirannya menimbulkan kekurangan energi protein (KEP) pada bayi.

Dampak krisis ekonomi yang terjadi sejak tahun 2007 sampai saat ini masih dirasakan oleh masyarakat. Krisis ekonomi menyebabkan semakin banyaknya jumlah keluarga miskin dan menurunnya daya beli terhadap pangan sehingga ketersediaan bahan makanan dalam keluarga menjadi terbatas yang pada akhirnya berpotensi terjadinya gizi kurang bahkan gizi buruk dan berakibat pada gangguan pertumbuhan anak. Beban kemiskinan paling besar terletak pada kelompok-kelompok tertentu. Anak-anak merupakan kelompok yang sangat menderita akibat adanya kemiskinan tersebut dan kualitas hidup mereka terancam oleh karena tidak tercukupinya gizi.

Upaya peningkatan status kesehatan dan gizi bayi dan anak melalui perbaikan perilaku masyarakat dengan pemberian makanan tambahan merupakan bagian dari upaya perbaikan gizi masyarakat secara menyeluruh. Dalam rangka menanggulangi dampak krisis ekonomi terhadap status kesehatan dan gizi pada keluarga miskin, berbagai langkah dan upaya terus menerus dilakukan oleh pemerintah. Salah satu upayanya adalah pemberian makanan tambahan kepada bayi berupa MP-ASI.

Untuk mencegah terjadinya gizi kurang sekaligus mempertahankan gizi baik pada keluarga miskin, maka program pemberian MP-ASI berbahan baku lokal sepertinya merupakan alternatif terbaik. Walaupun saat ini makanan bayi komersial banyak dijual di pasar, namun bagi keluarga miskin produk ini bisa menjadi barang mewah yang sulit dijangkau untuk jangka waktu yang relatif lama.

Dengan bahan pangan lokal kita dapat memperoleh harga yang murah, mudah didapat dan lebih bervariasi.
Secara umum campuran bahan pangan untuk makanan bayi terdiri dari dua jenis, yaitu (a) Campuran dasar (basic mix), terdiri dari serealia (biji-bijian) atau umbi-umbian dan kacang-kacangan. Campuran ini belum memenuhi kandungan zat gizi yang lengkap sehingga masih perlu tambahan zat gizi yang lainnya, terutama kebutuhan zat vitamin dan mineral. (b) Campuran ganda (multy mix), terdiri dari empat kelompok bahan pangan, yaitu (1) makanan pokok sebagai bahan pangan utama dan merupakan sumber karbohidrat, lebih dianjurkan berupa serealia, (2) Lauk-pauk (hewani maupun nabati) sebagai sumber protein, misalnya susu, daging sapi, ayam, ikan, telur dan kacang-kacangan, (3) Sumber vitamin dan mineral, berupa buah-buahan dan sayuran yang berwarna (terutama hijau tua dan jingga), (4) Tambahan energi berupa lemak, minyak atau gula yang berfungsi meningkatkan kandungan energi makanan.

Syarat MP-ASI yang perlu dipenuhi agar kebutuhan zat gizi bayi atau anak dapat terpenuhi harus mengandung cukup energi baik mutu maupun jumlahnya bagi setiap kelompok umur, memiliki nilai suplementasi yang baik, mengandung vitamin dan mineral dalam jumlah yang cukup dan diterima dengan baik oleh bayi, harga relatif murah dan dapat diperoleh atau diproduksi secara lokal. (provisi.awardspace.com)
 

(Spirit NTT)

Share on Facebook  
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort